Debat Kusir: Menggugat Penemuan Bukti Adanya Tuhan!

Inilah debat panas tentang bukti ada atau tidaknya Tuhan. Pastikan anda tidak lemah jantan jika ingin menyaksikan saling hujat diantara mereka. Seru dan menegangkan. Karena debat ini berlangsung sangat lama maka saya hanya akan menampilkan cuplikan terpanas saja dari hasil perdebatan mereka.

Inilah debat panas tentang bukti ada atau tidaknya Tuhan. Pastikan anda tidak lemah jantan jika ingin menyaksikan saling hujat diantara mereka. Seru dan menegangkan. Karena debat ini berlangsung sangat lama maka saya hanya akan menampilkan cuplikan terpanas saja dari hasil perdebatan mereka.

Penghujat:

Mana. Mana yang anda sebut bukti itu mana?

Penemu:

Alam ini kan bukti adanya Tuhan. Apa anda tidak lihat bagaimana menganggumkannya sistem alam ini?

Penghujat:

Itu bukan bukti. Itu pengandaian. Anda harus bedakan bukti dengan pengandaian. Kalau bukti itu seperti saya melihat anda sekarang. Saya bisa lihat anda. Saya bisa raba. Saya bisa dengar suara anda. Bahkan saya bisa tampar mulut anda yang dari tadi tidak juga paham.

Penemu:

Lho kalau bisa dilihat dengan panca indra mana mungkin. Namanya juga Tuhan. Tuhan itu ghaib.

Penggugat:

Dari mana anda tahu bahwa Tuhan itu ghaib?

Penemu:

Ya dari Kitab Suci.

Penggugat:

Itu tidak bisa dijadikan sebagai bukti. Itu keyakinan.

Penemu:

Kitab Suci itu kan dari Tuhan.

Penggugat:

Pernyataan anda itu juga keyakinan. Kalau yang namanya bukti itu tidak ada urusannya dengan keyakinan. Contohnya sekarang. Apa ada yang menolak bahwa anda tidak ada? Walaupun mereka beragama atau tidak. Asal mereka bisa lihat anda, itu sudah terbukti bahwa anda ada.

Penemu:

Okey. Sekarang saya mau tanya. Mungkinkah ada sesuatu tanpa ada yang menciptakannya? Mungkinkah alam ini tidak ada yang menciptakannya?

Penggugat:

Secara bahasa memang tidak mungkin.

Penemu:

Nah terbukti kan?

Penggugat:

Alam ini bukan bukti adanya Tuhan. Anda saja yang mengandaikan adanya Tuhan. Logika bahasa itu tidak selalu merujuk pada kenyataan. Itu imajinasi. Bahasa untuk bahasa. Logika untuk logika. Kebenarannya berlaku antara pernyataan yang satu denagn pernyataan pasangannya. Itu bisa dikarang. Misalnya saya katakan kalau ada kata “ada” tentu juga harus ada kata “tiada”. Betul kan secara bahasa. Tapi kata “tiada” itu kan tidak bisa anda buktikan dalam kenyataan bukan? Kalau yang ada itu sudah jelas. Tapi yang tiada itu bisa tidak anda buktikan? Jika bisa tolong tunjukan pada saya buktinya!

Penemu:

Lha Anda ini sudah berkilah. Pintar bicara…

Penggugat:

Siapa yang pintar bicara. Anda kan yang berkilah. Mutar-mutar bicara ke sana kemari. Padahal sederhana kok masalahnya. Kalau tidak ada buktinya ya kenapa tidak kita akui saja dengan jujur. Selesai kan masalahnya?

Penemu:

Tapi bagaimana dengan para ahli yang menemukan ilmu pengetahuan alam yang kejadiannya sama isinya dengan Kitab Suci? Padahal jauh sebelum penemuan itu sudah ada dinyatakan dalam kitab suci?

Penggugat:

Apa pun penemuannya. Yang dia temukan kan bukan bukti adanya Tuhan. Coba anda tunjukan mana contohnya bukti adanya Tuhan yang mereka temukan.

Penemu:

Itu pertemuan dua air laut yang airnya saling tidak bisa melewati atau saling mengalir ke lawannya masing-masing. Padahal itu air laut tidak ada batasnya seperti dinding. Apa tidak aneh?

Penggugat:

Aneh ya aneh. Tapi apa hubungannya dengan topik kita?

Penemu:

Jauh sebelumnya hal itu kan sudah dinyatakan dalam Kitab Suci. Terbuktikan!

Penggugat:

Hahaha… apanya yang terbukti. Terbukti ada kecocokan antara kejadian itu dengan Kitab Suci bisa jadi. Tapi hubungannya dengan Tuhan?

Penemu:

Ya itulah tanda keajaibannya. Kitab suci itu dari Tuhan. Dan terbukti kebenarannya dengan adanya penemuan seperti itu. Nah, itukan suatu bukti bahwa Tuhan ada?

Penggugat:

Hahaha…. Anda ini terlalu mengada-ngada. Terlalu menyiksa diri. Itu namanya keyakinan. Karena adanya hal-hal menakjubkan seperti itu lalu anda kagum. Takjub. Rasa takjub itu membuat imajinasi anda meloncat secara vertical: “O .. pasti ada Tuhan nih. Penemuan itu juga cocok dengan ktab suci. Tidak mungkin tidak ada Tuhan nih”. Nah, itu kan bukan bukti. Itu pengandaian anda. Keyakinan anda. Kalau bukti ya bukti. Masak anda tidak bisa bedakan antara bukti dengan keyakinan.

Penemu:

Anda selalu menarik-nariknya pada apa yang bisa dijangakau panca indra. Perasaan anda sendiri bisa anda lihat tidak?

Penggugat:

Tidak.

Penemu:

Nah begitu juga dengan Tuhan. Tidak bisa dilihat bukan berarti dia tidak ada kan?

Penggugat:

Betul. Tapi saya tidak mengatakan Tuhan itu tidak ada. Karena saya tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada. Tapi yang saya katakan tadi bahwa tidak ditemukan bukti adanya Tuhan. Begitu kan?

Penemu:

Okey. Anda pernah merasa rindu pada seseorang?

Penggugat:

Sering. Apa masalahnya?

Penemu:

Nah rasa rindu itu kan juga tidak bisa dilihat. Tidak bisa dijangkau dengan panca indra. Tapi dia ada kan?

Kan tidak bisa anda…

Penggugat:

Betul dia ada. Saya tidak menolaknya. Karena saya memang merasakannya dalam diri saya. Walaupun itu tidak dengan panca indra.

Penemu:

Nah, Tuhan kan juga bisa anda rasakan dalam hati?

Penggugat:

Apa ukurannya bahwa yang saya rasakan itu adalah Tuhan? Coba anda jelaskan.

Penemu:

Ya ada rasa yakin dalam diri anda bahwa Tuhan itu ada.

Penggugat:

Nah, yakin kan? Anda bilang keyakinan. Bukan bukti kan?

Penemu:

Ya yang anda rasakan dalam hati itulah buktinya.

Penggugat:

Anda ini kok mutar-mutar sih. Tadi sudah saya tanya. Apa buktinya bahwa yang dirasakan dalam hati itu adalah Tuhan. Tanda-tanda Tuhan maksudnya?

Penemu:

Ya hati itu kan yang bisa merasakan kehadiran Tuhan?

Penggugat:

Kehadiran Tuhan? Kok anda tahu bahwa itu kehadiran Tuhan?

Penemu:

(terbetuk batuk)

Penggugat:

Hey…. Dengar ya. Apa susahnya mengakui bahwa anda tidak menemukan bukti adanya Tuhan? Takut merasa menghina Tuhan? Takut Tuhan marah? Haha..! Anda ini mencampur adukkan antara keyakinan dengan bukti. Kenapa tidak diakui saja memang tidak ada bukti. Selesai kan? Setelah itu apakah anda akan tetap meyakini adanya Tuhan ya itu sudah soal berikutnya. Oya, ini satu lagi. Walaupun status kitab suci itu adalah keyakinan, tapi okelah. Kan dinyatakan bahwa alam ini menjadi tanda-tanda bagi orang yang berpikir…

Penemu:

Nah nah nah….! Itu kan!

Penggugat:

Anda jangan Geer. Itu tanda. Bukan bukti. Tanda itu simbol. Lambang. Bukan bukti.

Penemu:

Ya kalau tidak ada yang aslinya, mana ada simbolnya.

Penggugat:

Lho lho kembali lagi anda pada logika bahasa. Ada simbol ada yang aslinya. Secara bahasa betul. Tapi tadi sudah saya berikan contoh antara kata “ada” dengan kata “tiada”. Tapi apapun istilahnya, yang jelas Tuhan itu tidak anda temukan bukan? Tidak terbukti adanya bagi anda bukan?

“Teng teng teng!”

Sayang sekali waktunya sudah habis.

 

Komentar saya pribadi:
Memang secara logika tidak bisa dibuktikan bahwa Tuhan itu ada, tapi juga Tidak ada bukti yg meyakinkan bahwa Tuhan itu tidak ada…
Bagaimana bisa membuktikan suatu yg sudah diklaim tidak ada, jika sebelumnya sudah dibatasi bahwa yg tidak ada itu tidak mungkin bisa dibuktikan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s